Munas LDII VII : Abdullah Syam Kembali Pimpin LDII

Di dalam tradisi Munas LDII ada satu hal yang unik, ketika parpol atau ormas suksesi adalah hal yang utama, LDII justru mengutamakan program baru memilih pemimpin yang cocok untuk program tersebut, “Kami tak ingin terjadi perebutan kepemimpinan, yang rentan menimbulkan perpecahan. Kami mengedepankan musyawaroh, di mana setiap provinsi mengajukan calon masing-masing,” ujar Chriswanto Santoso.

Seorang calon bisa maju dalam bursa pemilihan di munas. Menurut dia, minimal namanya dicalonkan oleh 30 persen DPD provinsi di seluruh Indonesia. Namun, Chriswanto mengatakan, bila ada lebih dari satu nama yang diajukan lebih dari 30 persen suara, pihaknya akan melakukan musyawarah.

Namun, imbuh Chriswanto, kalau satu nama pun tak didapat. Dipastikan dilakukan musyawaroh. Ini terjadi saat Munas 2005, Teddy Tsuratmadji bersaing dengan Abdullah Syam. Melalui musyawaroh, akhirnya diputuskan Abdullah Syam memimpin LDII.

Toh Munas ini hanya memunculkan Abdullah Syam. Di antara 22 provinsi secara tegas menyebut namanya, sedangkan 11 provinsi lainnya tak menyebut nama, hanya mengharapkan ketua yang baru melanjutkan program-program kepengurusan lama, yang dinilai masih relevan dengan dinamika sosial. “Prof Abdullah Syam didukung 66,67 persen pengurus dari 33 provinsi se-Indonesia,” kata Chriswanto Santoso.

Munas  akhirnya ditutup oleh Andi Alfian Malarangen, Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Syaifullah Yusuf, Wakil Gubernur Jatim yang biasa disapa Gus Ipul, “Saya tahu LDII memiliki pengajian dari pemuda hingga anak-anak, ini memungkinkan pemebntukan generasi muda yang bermoral sebagai modal pembangunan bangsa,” kata Andi Malarangeng.

Dia berharap kegiatan positif yang ada di LDII untuk membangun generasi mendatang, dapat membantu pemerintah dalam menyiapkan kader-kader bangsa. “Saya ingin melihat LDII melahirkan atlit-atlit nasional yang mengharumkan bangsa, LDII juga menggiatkan kembali kegiatan kepramukaan. Saya pikir untuk LDII membentuk pramuka di tingkat nasional sangat mudah,” kata Andi Mallarangeng.

Sebelumnya, Gus Ipul sangat terkesan dengan program LDII untuk membentuk generasi yang profesional  religius, “Dengan demikian pemerintah memiliki tempat untuk bertanya dan berdiskusi, sehingga apa yang dibuat pemerintah memiliki sandaran moral,” begitu kata Gus Ipul. Antara LDII dan pemerintah adalah mitra. LDII dapat mengingatkan bila kebijakan pemerintah tak sesuai dengan nilai-nilai religius.

Ini memang jalan panjang. Kalau Indonesia diserahkan ke tangan-tangan generasi yang profesional religius. Niscaya Indonesia akan berada di barisan depan dalam peradaban dunia. Menjadi panutan terciptanya masyarakat yang sejahtera, demokratis, berkeadilan, dan bermartabat.

 

Source :

http://munas.ldii.or.id